Senin, 29 Agustus 2016

4 Model PR Grunig dan Hunt

Menurut Grunig (1992) PR /manajemen komunikasi lebih luas dari tehnik komunikasi dan lebih luas dari program-program khusus PR seperti hubungan dengan media atau publisitas. PR/manajemen komunikasi menggambarkan seluruh perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sebuah komunikasi organisasi dengan publik eksternal dan internal, yang memberi dampak terhadap kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan.

Model PR yang dipaparkan oleh Grunig dan Hunt (1994): The press agentry/publicity model, The public information model, The two way asymmetric model, The two way symmetric model.

1. Two way communication symmetrical

Model ini PR melalukan kegiatan berdasarkan penelitian dan menggunakan teknik kumunikasi untuk mengelola konflik dan memperbaiki pemahaman publik secara strategik (Grunig, 1992 : 18).
Contohnya Lifeboy, karena di managemen Lifeboy melakukan komunikasi dua arah dengan masyarakat, instansi tersebut tidak menutup diri atas pertanyaan masyarakat atas semua hal tentang Lifeboy dan juga mereka melakukan riset bukan hanya untuk kepentingan perusahaan dalam meningkatkan jumlah pembelian masyarakat terhadap produk Lifeboy tetapi juga untuk kepentingan masyarakat dengan mengadakan program cuci tangan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia.

2. Two way communication asymetrical
Pada tahap ini, pihak PR dalam praktiknya melalui penyampaian pesannya berdasarkan hasil riset dan strategi ilmiah (scientific strategy) untuk berupaya membujuk publik, agar mau bekerja sama, bersikap dan berpikir sesuai dengan harapan organisasi.
Contohnya pengantian minyak tanah ke gas yang dicanangkan pemerintah, di dalam program ini pemerintah melakukan komunikasi dua arah dan tidak menutup diri atas pertanyaan masyarakat juga komplainnya terhadap masalah bagaimana penggunaan kompor gas yang memang sebagian besar masyarakat masih sangat asing dalam menggunakan kompor gas dengan menerjunkan beberapa kelompok orang untuk mendatangi rumah-rumah dan memberikan pengarahan cara menggunakan kompor gas juga menerjunkan para teknisi untuk memperbaiki kompor gas yang rusak akibat kesalahan penggunaan kompor gas tersebut. Dan program ini tidak didahului dengan riset tentang penggunaan minyak tanah oleh masyarakat Indonesia, pemerintah tidak melihat kepentingan masyarakat hanya kepentingan pemerintah saja agar minyak di Indonesia tidak habis dan produksi gas bisa meningkat penjualannya.

3. Public Relation Theories / Press Agentry Model.
Selama abad ke-19 agen pers bekerja untuk membuat berita untuk mempengaruhi opini publik. Sebuah agen pers tidak melakukan survei atau penelitian mereka hanya ingin memanipulasi perilaku. Akurasi dan kredibilitas tidak prioritas dengan model semacam ini. 
Ini adalah komunikasi satu arah dari agen pers untuk publik mereka yang menggunakan persuasi dan manipulasi untuk mempengaruhi perilaku penonton.Metode ini biasanya digunakan oleh praktisi untuk salah satu cara komunikasi untuk menjual produk atau jasa tanpa analisis kuantitatif dari hasil.

4. Public Relations Theories / Public Information Model.
Model ini masih merupakan metode komunikasi satu arah tapi akurasi pesan menjadi lebih penting. Model ini tidak mempertimbangkan informasi tentang penonton menjadi penting dalam membangun pesan dan rilis. Di awal abad 20 bergerak di antara beberapa praktisi public relations tercerahkan terhadap pesan yang lebih benar dan akurat. 
Menjauh dari setengah kebenaran dan kebohongan yang terang-terangan adalah pendahuluan untuk meningkatkan praktek etika. Meskipun model ini masih tidak memiliki metode untuk analisis kuantitatif dari hasil praktisi sedikit lebih cenderung untuk mengumpulkan umpan balik dari khalayak mereka. Model ini digunakan terutama oleh instansi pemerintah, unit militer, dan lembaga penegak hukum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar